Kamis, 12 April 2012

Bukan yang saya inginkan, tetapi yang saya butuhkan

Diposting oleh faridatul muffidah di 05.27
Aku banyak belajar arti sebuah hidup pada saat umurku ada dideretan angka 18. Disini aku mengalami banyak suka duka, aku merasakan ketegangan dimana aku harus menghadapi suatu rintangan yang sangat berat yaitu ujian akhir nasional, aku mulai menata dan menyiapkan diri untuk siap menghadapinya, aku mulai menyukai sesuatu yang tidak aku suka, aku mulai mencintai pelajaran yang tidak aku suka dan alhasil aku bisa melewati rintangan itu. Alangkah bahagianya diriku ketika aku berhasil, disini aku dapat mengambil kesimpulan bahwa “kerja keras akan membawa kita pada keberhasilan” Otot otot sarafku mulai mengendor sejenak saja, dan kembali mengencang ketika akan ada suatu kabar lanjutan tentang perjuangan yang lebih berat dan menantang, sebelum membuka kabar itu, aku begitu yakin kalau aku bakalan ditrima di UNDIP jurusan ilmu komunikasi atau gag di UB Jurusan komunikasi pula, ternyata aku salah besar aku tidak diterima di jurusan manapun. malam itu aku bener bener merasakan betapa sakitnya gagal, dadaku sesak, air mataku jatuh membanjiri permukaan kulitku dan nafsu makan tak mau menghinggapiku, aku benar benar merasakan sakit yang benar benar sakit. Tiga suara yang waktu itu menenangkanku, suara wanita cantik yang telah melahirkanku, suara seorang pahlawan keluarga yang memeras keringat untuk mencari nafkah dan suara seorang gadis yang dekat denganku yang telah aku anggap sebagai kakakku. Senada mereka bicara “bukan rizkimu, masih banyak kesempatan, jangan menyerah dan terus berusaha”, suara itu bagaikan obat yang dapat menyembuhkan laraku saat itu, dan dapat menuntunku untuk tegap berdiri menatap hari dan penjuangan yang selanjutnya. Esok hari aku mulai berjalan dengan langkah yang pasti, kesombongan yang biasanya melekat pada sikapku, kuhilangkan dan kubuang jauh jauh dari kehidupanku, mulai kupelajari yang belum aku pelajari dan kubiasakan agar terbiasa apa yang pernah kupelajari dan itu aku lakukan dengan istiqamah sampai hari penentuan itu tiba. Hari itu aku mengambil pilihan yang sama dengan pilihan waktu SNMPTN Undangan, aku ngambil ilmu komunikasi dan sebagai pilihan cadangan aku ngambil sastra jepang dan aku ditrima di sastra jepang universitas brawijaya, aku gak tau aku harus senang atau sedih, tpi yang jelas aku sangat bersyukur Hingga sekarang, aku telah berdiri pada kampus yang disebut sebutnya dengan kampus biru universitas brawijaya, aku juga tidak tau kenapa kampus ini dinamakan dengan kampus biru. Yang jelas aku merasa bersyukur diterima di universitas ini. ternyata “Allah itu tau yang terbaik untuk kita, Allah tau apa yang kita butuhkan dan bukan yang kita inginkan.”

0 komentar:

Posting Komentar

 

My world Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei